Jakarta – PT Pratapa Nirmala (Fahrenheit) kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan inovasi di bidang kardiovaskular dengan berpartisipasi pada Annual Scientific Meeting of Indonesian Heart Association (ASMIHA) 2026, yang diadakan di Hotel Intercontinental Pondok Indah Jakarta tanggal 15-18 Juli 2026. Acara ini merupakan forum ilmiah nasional yang mempertemukan para dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari seluruh Indonesia.

Melalui keikutsertaannya dalam pameran ilmiah tersebut, Fahrenheit memperkenalkan berbagai produk unggulan yang ditujukan untuk mendukung tata laksana penyakit kardiovaskular. Produk yang dipromosikan meliputi Metacosfar (Iodixanol) sebagai media kontras isoosmolar yang aman, Clotaire (Ticagrelor) sebagai terapi antiplatelet dengan sediaan Ticagrelor 60 dan Ticagrelor 90, serta dua produk terbaru yang resmi diperkenalkan kepada komunitas medis, yaitu Esamlo (Levamlodipine) dan Epleron (Eplerenone). Selain itu, Fahrenheit juga memberikan informasi awal mengenai Farbradine (Ivabradine) yang direncanakan akan segera diluncurkan untuk melengkapi portofolio terapi kardiovaskular.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan ASMIHA 2026, Fahrenheit turut berpartisipasi pada Plenary Symposium yang menjadi momentum penting untuk memperkenalkan produk baru Fahrenheit yaitu Esamlo dan Epleron kepada para dokter spesialis jantung di Indonesia. Simposium tersebut menghadirkan para pakar nasional di bidang kardiologi, yakni Prof. dr. Bambang Budi Siswanto, Sp.JP(K), Prof. dr. Antonia Anna Lukito, Sp.JP(K), dan dr. Bagus Andi, Sp.JP, dengan dr. Anggia Lubis, Sp.JP sebagai moderator.

Dalam paparannya, Prof. Antonia Anna Lukito SpJP (K) menyoroti tantangan pengelolaan hipertensi yang hingga kini masih menjadi masalah kesehatan utama. Menurutnya, keberhasilan terapi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan obat menurunkan tekanan darah, tetapi juga oleh tolerabilitas terapi dalam penggunaan jangka panjang. Efek samping yang muncul selama pengobatan kerap menjadi penyebab pasien menghentikan terapi sehingga target pengendalian tekanan darah sulit tercapai.

Pandangan tersebut diperkuat oleh dr. Bagus Andi SpJP yang menjelaskan bahwa pengendalian hipertensi yang belum optimal tidak hanya dipengaruhi oleh rendahnya kepatuhan pasien, tetapi juga oleh efek samping yang ditimbulkan beberapa terapi antihipertensi. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan tekanan darah tetap tidak terkontrol dan pada akhirnya meningkatkan risiko kerusakan organ target, termasuk progresi menuju gagal jantung kronis.

Menurutnya, pemilihan terapi yang efektif sekaligus memiliki profil keamanan yang lebih baik menjadi faktor penting dalam meningkatkan keberhasilan pengobatan jangka panjang. Levamlodipine, sebagai isomer aktif amlodipine, diketahui memiliki risiko edema perifer yang lebih rendah dibandingkan amlodipine konvensional. Edema perifer merupakan salah satu efek samping yang paling sering dikeluhkan pasien selama menjalani terapi antihipertensi dengan amlodipine dan tidak jarang menjadi alasan penghentian pengobatan.

Sementara itu, Prof. Bambang Budi Siswanto menekankan bahwa gagal jantung masih menjadi tantangan besar dalam pelayanan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan penelitian ASIAN-HF, Indonesia tercatat memiliki angka mortalitas gagal jantung tertinggi dibandingkan negara-negara Asia lainnya. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tingginya angka tersebut adalah rendahnya kepatuhan pasien dalam menjalani terapi, termasuk penghentian pengobatan akibat efek samping yang dirasakan.

Beliau juga menjelaskan bahwa di antara empat pilar terapi gagal jantung dengan fraksi ejeksi menurun (HFrEF), kelompok Mineralocorticoid Receptor Antagonist (MRA) masih menjadi terapi yang paling rendah pemanfaatannya (underutilized). Selama bertahun-tahun, pilihan terapi MRA di Indonesia didominasi oleh spironolactone yang memiliki sejumlah efek samping sehingga tidak sedikit pasien menghentikan pengobatan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa Eplerenone memberikan manfaat klinis yang kuat pada pasien HFrEF dengan profil keamanan yang lebih baik dibandingkan spironolactone, terutama karena risiko efek samping yang lebih rendah. Hal tersebut menjadikan eplerenone sebagai pilihan terapi yang lebih sesuai untuk penggunaan jangka panjang pada pasien gagal jantung, mengingat terapi HFrEF harus dijalankan sepanjang hidup.

Levamlodipine (Esamlo) dan Eplerenone (Epleron) telah didukung berbagai bukti ilmiah sebagai terapi yang efektif untuk hipertensi dan gagal jantung dengan fraksi ejeksi menurun (HFrEF), disertai profil efek samping yang lebih rendah dibandingkan obat generasi sebelumnya. Melalui hadirnya Esamlo dan Epleron, Fahrenheit berharap dapat membantu menjawab kebutuhan klinis yang selama ini dihadapi para dokter spesialis jantung dalam praktik sehari-hari, khususnya terkait penanganan pasien yang mengalami efek samping akibat penggunaan amlodipine maupun spironolactone.

Kehadiran kedua terapi tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif yang lebih optimal guna meningkatkan kepatuhan pasien, memperbaiki pengendalian penyakit, dan pada akhirnya menghasilkan luaran (outcome) terapi yang lebih baik.

Partisipasi Fahrenheit dalam ASMIHA 2026 sekaligus mencerminkan komitmen perusahaan untuk terus menghadirkan inovasi yang berbasis bukti ilmiah serta menjawab kebutuhan nyata di dunia klinis. Sejalan dengan visi perusahaan, PT Pratapa Nirmala (Fahrenheit) akan terus mengembangkan produk-produk farmasi berkualitas tinggi yang inovatif, aman, efektif, dan tetap terjangkau sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat Indonesia.